Puisi yang “Ngenak” di Hati Itu Bagaimana Sih?

Tag

, , , , , , , ,

​Saya pernah menyaksikan Joko Pinurbo baca puisi di Taman Ismail Marzuki. Awalnya tidak ngeh beliau siapa, tapi melihat antusias penonton yang tiba-tiba hening, saya jadi penasaran. Berbeda sekali dengan penampilan pembacaan puisi di tempat lain, pada acara itu pembacaan puisi sangat khikmat. Tak ada satu pun yang membuat forum kecil.

Begitu dibacakan, penonton hening, tertawa beberapa kali saat Joko Pinurbo melontarkan lelucon dalam baitnya. Usai penampilannya, saya tercengang… dan kagum. Tak hanya itu, atraksi baca puisi yang berlangsung beberapa jam itu layak mendapat penghargaan “Malam Paling Menggugah” buat saya. Lalu apa yang membuat puisi-puisi tersebut sampai ke hati pendengarnya? Tentu tak luput dari jiwa yang ada di dalamnya. 

Menulis dengan hati

Menulislah dengan hati…. Yakin deh sampai ke hati pembaca

Rata-rata orang yang saya tanyakan tentang “bagaimana menghasilkan puisi yang sampai di hati pembacanya?” Jawaban mereka tak lain dan tak bukan adalah menulis dengan hati. Apa pun yang ditulis dengan hati, dengan tulus, pasti akan sampai, mau seperti apa pun tulisannya. Kapan waktu yang tepat menulis puisi? Kapan saja, tergantung suasana hatimu. “Entah itu bahagia, galau, marah, atau sedih pasti bisa menghasilkan puisi,” kata Lathifah Edib, pemuisi kelahiran Kalimantan. 

Lathifah Edib tergolong rutin menulis puisi di media sosialnya

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelummya, Menulis Puisi Jadi Asyik, tuliskan apa yang terbesit saat itu juga. Kemudian bacalah. Menurut Edib, membaca tak hanya membaca karya orang lain, tetapi juga lingkungan sekitar. Setelah menulis, endapkan puisi itu. Memangnya penting? Penting banget, karena kita bisa mengoreksi puisi pelan-pelan, baik typo, diksi, pemborosan kata, dan sebagainya. Kalau tidak diendapkan boleh? Edib dengan tegas menjawab tidak boleh.

Membaca tak hanya membaca karya orang lain, tetapi juga lingkungan sekitar.

“Menurutku, tidak boleh. Pengendapan, kan, bisa sebentar bisa juga lama. Misal nih, aku mau posting puisi lewat status Facebook. Kadang, sebelum aku klik “send”, aku baca dulu itu puisi sebelum kupublikasikan. Itu cuma perlu waktu sekitar 1-5 menit. Kadang juga aku endapkan beberapa jam hingga beberapa hari,” jelasnya.

Jujur

Sekadar Aku sudah menerbitkan tiga buku antologi puisi bersama hasil dari kejujuran menulisnya

Sekadar Aku, pria usia 24 yang sangat mencintai puisi suka sekali merenung, memikirkan apa yang sudah terjadi. Tanpa ribet menjadi orang lain dan memikirkan diksi, puisi-puisinya pasti tercipta dan terposting di akun facebooknya. “Nulis sejujur mungkin tentang apa saja yang ingin kutulis,” lanjutnya. Dia memang salah satu orang yang tulisannya saya suka. Gila, perenungannya begitu hebat dan sudah menerbitkan karyanya dalam tiga buku antologi puisi bersama rekan sepikiran. Simak saja puisinya berikut

)&!*

Seberkas membekas, menapak pada kelopak. Hangat nan pekat sehitam paling nikmat. Lalu pergi sebelum hilang sehingga kenang. Di mana kau sekarang? Kulihat liur membenang sehingga sarang. Dari satu, kemudian sepasang semakin usang inikah kenang?

Bodoh, ceroboh, Ah, sudahlah. Jangan bermain rima. Tuangkan semuanya dengan cara biasa. Kenapa terasa senada? Ini seperti puisi repetisi berdiksi basi. Sepi, sunyi, sendiri, Senyap menyergap, hilang terbuang, kenapa mengulang?

Lahir menua penyakit mematikan. Bukan empat, dasar Bangsat!  Jadilah lima setara penjaga cahaya sukma, seterang lapang berbincang dengan-Nya.

Kota Mati, @#!)@)!^ )&!(

Galau

Galau itu kadang jadi anugerah. Wkwkwk… Tapi jangan galau berlebihan ya

Hal menjengkelkan jika teman-teman saya berkomentar, “Teruslah galau, agar produktif berkarya.” Mereka benar. Jika saya galau, saya lebih banyak melampiaskannya pada karya, entah itu puisi, cerpen, doodle, gambar, atau yang lain. Sebab tanpa disadari galau selalu memenuhi kepala dan harus dilampiaskan. Sekadar Aku pun begitu. Dia lebih suka menulis saat galau, apalagi dalam kondisi tenang dan tidak ada gangguan. Kamu tentu saja bisa melakukannya dengan baik saat galau. Jangan sia-siakan momen galau untuk menulis puisi.

Lepas

Menurut Shifu, menulis puisi harus didasarkan atas cinta

Membuat puisi harus lepas. Menurut Shifu Nangklanan, pemuisi asal Adonara, Nusa Tenggara Timur, cara membuat puisi yang asyik itu saat jiwa kita lepas, merasa bebas. Membebaskan diri itu penting dalam menulis. Jika kamu termasuk orang yang tidak terbiasa dengan aturan, abaikan norma saat menulis, tapi bukan berarti bebas-sebebas-bebasnya.

Lepaskan jiwamu dalam bentuk kata-kata puitis

“Banyak orang menulis bergantung mood, padahal sebenarnya tergantung kesenangan dalam arti lebih luas,” lanjut Shifu. Senang menulis puisi ibarat jatuh cinta. Jika seseorang sedang jatuh cinta, setiap rasa yang muncul, misalnya sedih, senang, benci, tidak suka, bahkan dari hal yang paling tidak ingin dijumpainya meski sekadar bermimpi, akan terwujud dalam untaian kata. Puisi yang asyik itu mencakup semuanya, ketika seseorang itu lepas dan merasa bergairah.

Stres

Kamu stres? Tulislah puisi…

Hahaha… Percaya tidak jika setiap orang memiliki karakter berbeda. Beberapa orang saat stres akan lebih banyak makan, merokok, berolahraga, lari…. Dari kenyataan.. #eh, mencari teman curhat, atau untuk beberapa orang introvert biasanya menuangkan curahannya dalam bentuk tulisan. Menulis itu cara untuk membuang energi negatif dan menjadikannya sebagai karya. Tapi kamu perlu perhatikan bahwa karya itu sebaiknya bermanfaat untuk orang banyak. Jangan asal membinatangkan semua kata-katamu dalam tulisan. Saran saya sih tulisan yang begitu disimpan sendiri saja dan baca ulang kembali saat emosi mereda. Tulisan binatang itu bisa kamu pakai untuk introspeksi diri. Melihat diri apakah kita sudah cukup bijak berkata-kata baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Puisi Veronica B. Vonny sangat menyentuh. Bisa dibilang ia sudah bisa menemukan celah penekanan rasa pada puisi

Ada banyak cara mengekspresikan perasaan dalam puisi. Tentu saja, puisi yang langsung “nyes” ke hati pembacanya bisa dibilang susah-susah gampang. Selain tips di atas, ada ada tips spesial dari Veronica B. Vonny, penulis dan pernah jadi editor lepas di Grasindo dan Gramedia Pustaka Utama. Penasaran? Nih tipsnya

1. Gali perasaan terdalam yang terpendam, ataupun pikiran/masalah yang sedang memenuhi benak. 
2. Ungkapkan lewat bahasa tulisan yang puitis. 

3. Olah kembali agar tatanannya menarik dan enak dibaca sebagai puisi (termasuk pilihan kata dan tipografinya) 

Yang sudah terbiasa nulis puitis mungkin tidak akan kesulitan membahasakan pikirannya langsung ke bentuk puisi. Namun, yang merasa sulit nulis puitis bisa juga melakukan dengan dua proses: pertama, tulis dulu apa saja yang ingin diungkapkan, tidak usah memedulikan diksinya. Setelah itu, barulah diolah sehingga jadi puitis dan berbentuk puisi.

Jadi bagaimana? Yuk langsung mencoba merenung dan menuliskan kata demi kata di atas kertas atau pun melalui smarphonemu. Semoga bermanfaat. (Uwan Urwan)

Iklan

Sulap Foto Usang Jadi Instagram-able

Tag

, , , , , ,

Foto yang hasilnya jelek memang menjengkelkan. Apalagi jika waktu yang tersedia untuk memotret sangat singkat.

Memotret hasilnya jelek? Blur? Kurang cahaya? Anglenya kurang pas? Atau tidak fokus? Tenang, saya sering mengalaminya kok. Lalu apa harus dihapus karena takut memori kartu cepat penuh? Itu sih terserah kamu. Kalo saya sih, lebih baik menyimpannya.
Lalu buat apa menyimpan foto-foto yang tidak bagus? Pertama, buat belajar. Kedua, didaur ulang. Buat belajar itu penting. Agar kita tahu dan bisa membandingkan mana cara pengambilan paling baik. Setelah memotret tentu kita suka cek galeri dong. Jangan hanya lihat bagaimana foto selfie terbaik, plis deh hahah. Akhir-akhir ini saya memang jarang selfie, kecuali jika berkumpul dengan sesama banci kamera. Selfie itu wajib, tapi tidak selalu harus diposting. Eneg juga kali orang melihat foto kita. Semoga tidak ada yang menyodorkan kaca sebesar tembok. Ahahah.. Eh, bahasannya ngelantur.

Baiklah. Mari kita kembali ke topik utama.

Selama memori di ponselmu belum penuh, usahakan foto jelek tidak dihapus. Bisa didaur ulang. Tidak tahu cara mendaur ulangnya? Sangat sederhana sekali, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Saran saya, siapkan aplikasi edit foto favoritmu (Snapseed, PicsArt, atau aplikasi lain), dan Phonto. Phonto sebenarnya hanya tambahan jika font di Snapseed atau PicsArt kurang sesuai. Phonto adalah aplikasi yang menyediakan banyak jenis font, sehingga kita bisa menambahkan tulisan dalam foto sesuai keinginan kita. Setelah menyiapkan aplikasi tersebut, foto bisa didaur ulang jadi apa saja sih. Simak nih contohnya

1. Quote

Daripada jadi tukang copy paste quote orang lain, lebih baik bikin quote sendiri. Atau meletakkan kutipan favorit di atas foto karya kita. Siapkan saja fotonya dan tempel kalimatnya.

2. Saga (Sajak Gambar)

Tidak selalu perlu gambar bagus untuk digunakan sebagai background tulisan

Sekarang kan zamannya sudah berbeda. Kegiatan copy, paste, dan share sangat gampang dilakukan. Jadi rasanya kalau kamu masih suka copy paste karya orang itu kebangetan banget. Bikinlah puisi sebait lalu tempelkan di atas gambar. Simpel dan siapa tahu kamu bisa lebih ngehits dengan banyaknya orang yang suka dan share sagamu.

Sesuaikan tema tulisan dengan gambar agar ada interaksi keduanya

3. Kover buku

Anggap saja ini kover buku berjudul Zero. Ahahah…

Memangnya tidak bisa kover buku pakai foto blur? Mengapa tidak? Selama tema foto masih seragam, justru akan lebih artistik. Jangan deh jadi yang mainstream-mainstream. Cobalah hal baru. Iya kan?

4. Picture profile

Gambar ini juga tidak sengaja sih. Saya memotret tangan yang saya tempel di depan kamera. Maklum lupa kalau letak kamera di pojok kanan. Karena sudah gelap, saya hanya tinggal crop dan tambah tulisan dan ssstt.. Gambar ini memang jadi foto profil Instagram @uwanuwan

Orang yang pandai memotret banyak, apalagi yang teknik fotografinya kece. Terus kamu merasa gak bisa memotret bagus minder sama tukang poto profesional? Asyikin aja lagi. Pede aja jadiin foto profil di medsosmu.

5. Iklan, baliho, gambar di kaos, atau…

Lucu juga kan jika iklan ini pakai foto blur yang saya edit pakai PicsArt dan Phonto

Sekali lagi, masa bodolah sama persepsi orang. Apapun yang kita hasilkan harus dihargai dan disyukuri. Foto jelek bisa dimanfaatkan jadi apa saja.

Terus kalau sudah tahu dimanfaatkan jadi apa saja, bagaimana caranya agar foto jelek tampak menarik?

Memang sih, foto jelek tidak selalu bisa langsung diaplikasikan. Editlah terlebih dahulu. Hayyaaaa… Harus diedit juga? Kamu lupa? Fotografer profesional saja mengandalkan proses edit foto sebelum tayang di media. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan langsung tempel foto kita dengan tulisan. Ahahah… Kita akali sedikitlah biar orang melihat “waw”. Sebenarnya niat utama jangan untuk pamer yang bersifat menyombongkan diri sih, tapi lebih kepada memanfaatkan apa yang dimiliki dan untuk bersenang-senang. Karya harus dipamerkan, jangan dimuseumkan di lemari. Buat apa? Kalau bisa menginspirasi dan bermanfaat buat orang-orang kenapa harus disimpan sendiri? 

Jadi begini, saya suka pakai Snapseed karena jika ditambah saturasi, brightness, contrast, dll tidak terlalu merusak objek yang kita ambil. Berbeda dengan PicsArt. Saya kurang menyarankan ya untuk edit foto pakai PicsArt. PicsArt justru sangat membantu memberi efek yang artistik. Di PicsArt bisa blurkan foto dengan berbagai efek, bisa mengganti warna mata, menghitamkan kulit, dan efek-efek lain. Saya tidak akan menjelaskan rinci, karena selera setiap orang berbeda. 

Contoh nih ya. Saya ingin bikin kover teaser ala-ala. Kebetulan foto yang saya gunakan adalah foto pohon dan langit. Blur, tentu saja. Saya crop pakai aplikasi Snapseed, menurunkan Shadownya, dan menaikkan saturasinya. Jangan lupa tambahkan teksnya. Taraaaa…. Wkwkwkwk. Jadilah.

Teaser ala-ala. Misalnya nih kamu lagi bikin album dan bingung mau pakai foto apa, search di galeri aja. Siapa tahu ada gambar yang sesuai.

Mau yang lebih asyik lagi? Pakailah PicsArt. Foto jelek bisa jadi sangat artistik hanya dengan kreativitas yang kita punya. Tergantung saya mau pakai berapa efek, jika dirasa efek painting saja cukup, ya sudah. Cukup. Jika ingin lebih banyak efek lagi, saya biasanya butuh berjam-jam membuat foto yang semula blur jadi bentuk lain. Pada akhirnya tetap, saya tambahkan tulisan. 

Foto blur yang bikin kesel, tapi jadi ingin dibuat beda ah…

Foto sepatu blur saya edit pakai PicsArt. Dengan tools Stretch dan motion saya bentuk sepatu itu sedemikian rupa jadi seperti sosok manusia. Lalu saya tambahkan efek artistic dan pop art. Oke saya lupa pakai efek apalagi. Ahahaha… Cobalah otak-atik itu aplikasi.

Taraaa, saya beri tulisan menggunakan aplikasi Phonto

Beberapa orang justru tidak menggunakan satu jenis aplikasi untuk menghasilkan gambar bernilai seni lain. Biasanya berpindah-pindah aplikasi agar hasilnya sesuai keinginan. Lagi-lagi ini bergantung selera masing-masing. Untuk beberapa orang yang tingkat imajinasinya tinggi, hasil akhir bisa sangat artistik. Jika sudah begini, tinggal posting dan diberi caption menarik.

Wanna try this? Cobalah sekalian iseng-iseng nunggu teman tidak ada salahnya kan? Semoga bermanfaat. (Uwan Urwan)

Hasilkan Foto Instagram-able Pakai Ponsel

Tag

, , , , ,

Sejak umur 14 tahun saya sudah mulai menikmati hasil foto ahli potret. Saya dibuat terkagum-kagum dengan hasilnya. Waktu itu rajin ke perpustakaan untuk melihat gambar-gambar di buku ensiklopedia juga buku lain. Sampai akhirnya saya punya kamera pocket yang masih menggunakan klise. Klise banget ya… Wkwkw.. 

Bahasan kali ini sih bukan tentang kamera. Kata teman-teman teknik fotografi saya meningkat. Alhamdulillah beberapa waktu lalu sempat menang lomba foto produk di Smesco Digipreneur, ini linknya https://youtu.be/zWHQaXXlJBw. Saya juga tidak menyangka, sebab peserta lain menggunakan kamera gendong (DSLR), sementara saya hanya menggunakan ponsel. 

Apa saya menang begitu saja? Tidak. Saya belajar dari orang-orang yang jauh lebih ahli ketimbang saya. Saya belajar dari teman-teman wartawan Trubus senior waktu saya masih jadi salah satu reporternya, dan teman-teman perfotoan yang selalu ikut tema di akun instagram @uploadkompakan, @motretforfun, @clickandframes @potretinframes, dan lain-lain. Setiap hari mereka mengeluarkan tema untuk diikuti. Jadi jangan heran kalau saya suka ngalay di instagram saya @uwanuwan. Saya belajar di sana juga berkomunikasi dengan orang sehobi, saling sharing informasi dan teknik fotografi. Saya belum ahli sih. Coba saja ikuti tema-tema yang biasanya saya upload di Instagram. Cari pakai hastag. Kamu pasti akan menemukan foto-foto dengan hasil mengagumkan. Jauh lebih bagus ketimbang foto saya. 

Kebetulan saya sering berkunjung ke rumah pemilik akun Instagram @ikka_malika. Dari situ saya jadi tambah ilmu juga dengan lihat langsung studio kecilnya. Sederhana sekali, hanya terdiri dari peti kayu bekas buah, dan tripleks bekas bangunan. Tapi, jangan tanya hasilnya.

Kali ini, dengan sedikit ilmu, ingin berbagi tips sederhana menghasilkan foto produk dengan background hitam dan putih ala Uwan Urwan. Begini….

1. Siapkan objeknya

Bunga rumput yang saya ambil di sawah pun bisa jadi objek foto

Coba cek apa yang kamu punya, bolpoin, sandal, buku, teacup, piring, mainan, atau apa saja. Objek tak harus bagus, bahkan bunga kering pun bisa jadi objek.

2. Siapkan properti

Karena ingin background hitam dan putih, siapkan kain hitam (bisa kerudung, baju, jaket, apa saja asalkan hitam). Jika kamu ada bajet lebih, bisa membuat dari tripleks dengan dicat hitam. Untuk bacground putih bisa pakai kain (asal yang berwarna putih ya. Jangan merah atau polkadot. Hahaha). Hmm paling sederhana sih kalender. Karena setiap rumah pasti punya kalender, bagian belakang kalender bisa digunakan. 

Jangan buang kalender lamamu ya

Sebenarnya untuk background, kamu bisa pakai apa saja. Dalam tulisan ini saya menyarankan yang umum dimiliki. Sekaligus menekan bajet.

Buka kulkas, buka lemari, lihat isinya. Pasti bisa dijadikan properti

Untuk properti, orang-orang perfotoan biasanya memang punya properti khusus, berupa pasir, bunga kering, bunga plastik, dan lain-lain. Kamu bisa cek instagram jika mencari referensi properti apa yang biasanya dipakai untuk mempercantik foto.

3. Siapkan aplikasi Snapseed

Aplikasi asyik yang saya pakai untuk edit foto

Aplikasi ini yang saya gunakan sekarang. Selain simpel, hasilnya memuaskan. Ada banyak aplikasi edit foto, hanya saja, saya saat ini pakai Snapseed.

4. Atur studio kecil kita

Boks ini saya pakai buat mengaitkan kain

Nah, beginilah posisinya. Sederhana bukan?

Kamu bisa mencontoh gambar ini. Agak sulit saya menjelaskan, jadi cobalah kamu atur sedemikian rupa. Oh ya, penting untuk diperhatikan. Pencahayaaannya harus cukup, tidak terlalu banyak cahaya dan tidak redup. Saya sih suka meletakkan studio bongkar pasang di luar rumah. Kebetulan saya tidak perlu lagi menambahkan penghalang agar cahaya tidak berlebih saat memotret.

Kalau studio kecil @ikka_malika begini

5. Berkreasilah

Asyiknya sih dalam seni itu dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang unik. Untuk awal cara paling baik untuk belajar itu meniru. Tirulah dengan cara yang sama. Jika sudah menemukan celahnya, temukan jati diri. Xixi… Kebetulan saya masih suka meniru.

Ada yang tahu bunga ini?

Letakkan objek utama di tengah. Potret. Jangan hanya sekali jepretan. Fotografer profesional saja tidak menjepret sekali unruk satu angle. Jika sudah selesai dengan satu angle, cobalah untuk memotret dari angle yang berbeda. Ada banyak seni fotografi, flatlay, hands in frame, dan lain-lain. Silakan browsing sendiri, soalnya saya juga masih belum terlalu paham. Takut salah menyampaikan. Ahahaha…

Asyiknya bekreasi dalam fotografi

Jika sudah selesai dengan objek tunggal, cobalah untuk menambah properti lain, misalnya bunga hidup, bunga kering, serasah, kerikil, talenan, pita, pasir, serbet, koran, atau… apa saja yang ada di rumah bisa dipakai. Serius. Asal jangan takut saja berkreasi. Berimajinasilah. Berfantasi… Tsaaahhh… 

6. Edit dengan Snapseed

Kaldu kambing dengan tambahan asesoris yang mendukung objek (Sebelum)

Kaldu kambing (setelah dilakukan cropping, rotate, dan saya tingkatkan saturasinya 

Proses ini cukup penting. Sebab meski hasil foto bagus, tapi kadang masih belum sempurna. Jangan salah, fotografer profesional juga mengandalkan proses editing untuk menyempurnakan hasil foto.

Bunga liar. Detail mahkotanya tidak tampak meskipun saat dilihat menggunakan mata telanjang juga begitu (sebelum)

Bunga liar setelah dilakukan cropping, lalu menaikkan detail struktur, kecerahan, dan saturasinya

Hal pertama yang sangat mungkin dilakukan adalah cropping, meningkatkan saturasi, brightness, ketajaman, dan lain-lain. 

Ini yang bikin saya jingkrak-jingkrak. 😍😍

Untuk foto background kalender, biasanya terlihat ada lipatan. Naikkan brightness-nya, kurangi shadownya, naikkan highlights, naikkan detail structure-nya,  dan atur white balance-nya. 

Untuk background hitam, biasanya saya cuma menurunkan shadow-nya, atau memanfaatkan selective dengan menurunkan brightness-nya.

Snapseed cukup unik sih penggunaannya. Kamu cukup menggeser ke kanan dan ke kiri, atau menggeser ke atas dan ke bawah. Oh ya, jangan lupa tambahkan watermark. Jangan remehkan foto hasil jepretan sendiri meskipun hasilnya standar. Itu karya dan siapa saja bisa mengambil lalu memostingnya. Pastikan jika tidak menggunakan watermark, fotomu sudah siap diambil dan dipublikasikan orang lain. Hehe.. Semoga ilmu sotoy yang saya tulis di sini bermanfaat. Aamiin. (Uwan Urwan)

Membuat Puisi Jadi Asyik

Tag

, , , ,

Beberapa teman tiba-tiba mendatangi saya untuk bertanya serius tentang puisi. Mereka menanyakan bagaimana sih memilih diksi dan membebaskan imajinasi. Ah, meski sudah menerbitkan dua buku kumpulan puisi tunggal, tiba-tiba saya tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Pertanyaannya memang sederhana. Tapi seringkali hal sederhana tidak bisa dijelaskan dengan baik. Iya, kan? 

Saya bukan siapa-siapa lalu didatangi oleh teman-teman yang ingin menculik ilmu dari saya. Ah, menculik, bagaimana kalau diganti “meminta berbagi”? Itu lebih tepat. Jangan pelit ilmulah.

Kemudian saya ingat pesan seorang teman, “jika ada yang bertanya-tanya, jawablah dengan bijak”. Dari situ saya mencoba mengingat-ingat apa yang pernah saya pelajari. Rasanya berdosa jika harus memiliki ilmu itu sendiri. Dari pertanyaan-pertanyaan itu saya jadi membuka ingatan kembali, membaca ulang, dan ya, ternyata saya juga melupakan banyak hal saat menulis puisi. Ternyata teori yang saya dapat tidak terlalu diaplikasikan.

Meski tergolong amatir dalam hal perpuisian, saya juga punya tanggung jawab untuk berbagi, tentang bagaimana sih membuat puisi dengan pilihan diksi yang tepat. Sambil belajar juga. Begini tips membuat puisi kece ala Uwan Urwan

  1. Bebaskan imajinasi. Saya tergolong penggemar berat puisi-puisi Afrizal Malna dan I Made Wiyanta. Mereka mengajarkan saya untuk membiarkan imajinasi menangkap semua objek yang ingin dituangkan dalam tulisan. Jika saya berada dalam sebuah ruangan yang terdapat meja kayu ukiran. asbak kotor, puntung rokok, kucing tidur, lampu petromax, dan sepatu usang. saya akan menuangkan semua objek-objek itu menjadi satu padu yang bisa jadi menghidupkan benda-benda mati itu menjadi seolah-olah punya nyawa.
  2. Jangan terpaku pada diksi. Meskipun saya suka sekali menggunakan diksi-diksi aneh, saya tak pernah memikirkan kata apa yang akan saya tulis. Selama apa yang ada di dalam kepala masih mendesak untuk dikeluarkan, saya tidak akan berhenti menulis. Berhenti, memikirkan diksi artinya melepaskan kata-kata yang seharusnya jadi padu dalam puisi itu. Sayang sekali kan kalau kita terlalu repot memikirkan diksi, tetapi ide jadi kabur. Isi puisi bisa jadi patah-patah dan maknanya pun seolah robek.
  3. Bukalah kamus. Dulu saya rajin sekali buka kamus Bahasa Indonesia. Biasanya saya menemukan kata-kata yang tidak familiar tapi sebenarnya bisa dipakai dalam puisi. Lucu kan. Orang bisa jadi akan belajar Bahasa indonesia kembali jika kita memopulerkan kata-kata yang sudah terlupakan. Tapi jangan kebablasan. Terlalu banyak menggunakan kata ganti juga bisa membuat puisi jadi aneh.
  4. Berdiskusi. Yes, ini yang sering saya lakukan sih. Kita tidak bisa hidup sendiri. Karya kita tidak akan hidup tanpa orang lain. Masukan orang lain perlu. Bahkan gaya penulisan orang lain bisa jadi sumber inspirasi. Dari situ kita bisa belajar “begini ya.. begitu ya…” Serius. Selama saya berdiskusi dengan teman, ada banyak sekali ilmu yang didapat. Kenapa? Bahan bacaan setiap orang jelas beda, artinya referensi kita akan bertambah tanpa harus membaca ribuan buku puisi.
  5. Sering-sering baca dan mengomentari tulisan orang lain. Membaca saja tidak cukup. Membaca puisi buat saya tergolong hal yang membosankan. Haha… Serius. Walaupun pada saat-saat tertentu membaca puisi itu adalah obat kesengsaraan hati. Haha.. Dengan mengomentari tulisan orang lain, artinya akan ada interaksi dari si pembuat puisi. Nah, itu juga diskusi. Asal tidak menjelek-jelekkan karya orang lain saja. Memangnya situ oke sampai harus menjelek-jelekkan orang lain? Wkwk…
  6. Bacakan. Hm.. maksud saya bukan membaca saja, tapi bacakan dengan gaya pembacaan puisi. Tak perlu bagus cara membacanya. Bacakan saja dengan gaya sendiri. Dengan dibacakan, aura yang ada dalam puisi yang kita buat akan terasa. Jika ada diksi yang kurang nyaman, juga akan langsung tampak. Jadi bisa disubtitusikan dengan kata lain.

Ada banyak hal yang masih saya pelajari. Pada tulisan yang lain, saya akan membahas juga tentang puisi. Cannot wait? Saya juga tidak sabar tuh. Jika kamu punya tips tambahan, silakan. Kita bisa saja berdiskusi asyik tentang puisi. Dahhh.. semoga bermanfaat ya. (Uwan Urwan)