Cara Mewarnai yang Asyik

Tag

, , , , ,

Halo, tahu doodle, bukan? Apa? Tidak tahu? Ya Allah, itu lo buku coloring for adult yang lagi ngetren itu. Buat yang tahu diem aja. Wkwkwk. Pasti kamu ketinggalan zaman deh, kudu update sekali-kali jangan kebanyakan ngulek sambel dan mikirin kenangan kayak saya.

Ini loh salah satu contoh doodle karyaku

Nah udah tahu contohnya kan. Sekarang saya akan bahas sedikit pengertiannya. Menurut Wikipedia, doodle adalah gambar sederhana yang memiliki makna representatif beton atau mungkin hanya bentuk-bentuk abstrak. Kalau secara bahasa, doodle adalah gambar tidak berarti.

Pernah bosan mendengarkan guru atau dosen mengajar lalu mulai mencari halaman kosong untuk dicorat-coret? Hasil akhirnya bisa beragam, monster kambing berkepala ular, sekumpulan benang-benang ruwet, atau bentuk abstrak lain, tapi tak jarang juga punya makna khusus. Itu doodle. Pernah tahu juga kan pada zaman dulu ada simbol-simbol di gua atau di hatimu #eh. Itu juga doodle. Tapi.. Tapi… Kini doodle mengalami penyempitan makna. Justru doodle masa kini adalah coretan bertema dan jadi populer di seluruh dunia. Seperti buku doodle saya yang sempat ngehits (kata saya) di toko buku di seluruh Indonesia. Wkwk.. Beberapa teman mejelaskan bahwa doodle itu ini.. Itu… Pengertian baru yang saya tidak tahu. Sepertinya akibat kurang update sih. Baiklah lupakan masalah pengertian, saya dibuat pusing karenanya.

Ini lo buku doodle saya yang sudah menasional. Orangnya belum. 😢 wkwk

Kali ini saya tidak akan membahas tentang doodle lebih jauh, tapi tentang bagaimana sih caranya mewarnai objek. Kita kembali lagi menjadi anak-anak. Eh, jangan salah, anak usia lima tahun ada yang jago mewarnai lo. Saya saja mengaku kalah. Jadi saya coba share sedikit ilmu yang saya pahami. Simak nih tips berikut:

1. Berimajinasi

Jadi begini, mewarnai sebenarnya pekerjaan menyenangkan. Mau pakai media apapun, teknik mewarnai sama saja. Hal paling mudah jika kita sedang melihat objek, botol misalnya, dan kita ingin mewarnai sebuah botol dengan warna hijau. Letakkan botol di meja dan perhatikan bagian yang terkena sinar dan tidak. Jelas terlihat ada bagian gelap dan terang. 

Nah paling mudah sih melihat objek ini. Jelas terlihat bagian terang dan gelapnya. Kamu bisa mencoba membiat objek ini terlebih dahulu untuk mewarnai (foto pribadi)

Sekarang beralih pada gambar. Bayangkan ada cahaya menerpa salah satu sisi botol. Bagian yang terkena sinar pasti lebih terang ketimbang yang tidak.
Jadi begini, ambillah seluruh warna hijau dalam kotak pensil warna. Bisa dipastikan ada warna hijau tua dan hijau muda. Sapukan hijau tua untuk sebagian sisi yang tidak terkena cahaya lalu lanjutkan dengan membubuhkan hijau muda.
Eitsss…. Tunggu dulu. Mewarnai adalah proses imajinasi, menggunakan perasaan untuk menggunakan warna sebaik mungkin. Untuk menghasilkan warna pekat, pensil warna agak ditekan. Tapi hati-hati, ujung pensil warna sangat rapuh, seperti hati. Jadi menekan pun harus dengan lembut. Untuk bagian yang semakin terang, angkatlah sedikit, sehingga warna yang dihasilkan tidak terlalu pekat.
Teknik ini digunakan untuk memberi efek hidup pada gambar yang akan kita warnai. Bandingkan saja jika hanya menggunakan satu warna, tampilannya akan monoton. 

2. Gradasi itu perlu

Salah satu karya saya. Coba perhatikan gradasi pada mahkota bunga mawar. Ada bagian yang sangat merah, semakin ke atas semakin terang. Perhatikan juga objek lain.

Heiyo, mewarnai itu menyenangkan lo (sengaja kalimat ini diulang-ulang). Setelah tahu bagian gelap dan terang pada objek, yuk belajar memakai banyak warna senada. Poin pertama sih sudah menjelaskan bagian gelap dan terang ya. Jadi, bagaimana kalau ingin mewarnai daun. Gampang. Jika pakai pensil warna, ambillah warna hitam, hijau tua, hijau muda, dan kuning. Sapukan hitam pada bagian yang menurut kita gelap (aplikasikan teknik pada poin satu) sedikit saja. Lalu timpa dengan hijau tua ke bagian yang agak terang, berlajut dengan warna hijau muda, dan terakhir kuning. Penggunaan warna sebanyak ini bisa digunajan saat objek ukurannya cukup besar (ya kira-kira saja sendiri. Wkwkw). Untuk daun yang kecil bisa pakai dua atau tiga warna saja. Jika pakai crayon, cat air, atau yang lainnya, sebenarnya sama saja caranya aih caranya.

3. Tabrak warna

Salah satu karyaku di atas piring juga bisa dibilang tabrak warna sih. Untung saja nyambung. Wkwkw. Kamu bisa cek karya-karyaku di IG @uwans_art

Tidak perlu takut bermain warna. Untuk yang bergenre abstrak, bisa saja maen tabrak warna. Merah, hitam, kuning, hijau, dan apa saja. Warnai saja jika memang untuk belajar. Kalau menurutmu hasilnya jelek tidak akan berpengaruh apa-apa buat orang lain. Pasti untuk selanjutnya bisa lebih bagus lagi teknik tabrak warnanya.

Tanti Amelia sempat menjadi juara pertama Eat Travel Doodle Competition di Kuala Lumpur, Malaysia (kredit: Tanti Amelia)

Dari saya sih begitu. Sebenarnya teknik mewarnai ada banyak, bergantung tujuan dan kebutuhan. Berbeda orang beda teknik, beda hasil. Tanti Amelia, ilustrator, blogger, sekaligus penulis hits pun punya tips tersendiri. Tangannya luwes bermain warna tanpa ragu. Biasanya ia memulai dengan kertas kosong, lalu membuat sketsa dengan pensin 8B. Sketsa apaaan? Ya sketsa objek untuk diwarnai. Sepertinya memang lebih baik saya buat poin-poin ya

Salah satu karya Tanti Amelia yang luar biasa (kredit: Tanti Amelia)

1. Setelah membuat sketsa, sapukan pinggiran objek dengan cat poster warna hitam.

2. Sapukan warna bold muda kemudian dicampur warna putih untuk efek warna lebih muda. Semakin ke tengah semakin muda. Contohnya gambar di bawah ini

Jangan lupa bikin sketsa terlebih dahulu ya (Kredit: Tanti Amelia)

3. Carilah warna kontras dari objek utama, misalnya kuning. Untuk gambar ini adalah burung dan ekornya.

4. Dalam satu objek, burung misalnya, minimal menggunakan tiga warna kontras. Misalnya merah, kuning, dan jingga.

5. Gradasikan semua warna, baik kuning, merah, dan biru yang digunakan. Caranya dengan mencampur warna putih atau warna lain juga bisa.

Gunakan warna putih untuk gradasikan warna (kredit: Tanti Amelia)

6. Untuk background, sapukan warna putih terlebih dahulu sebagai dasar.

7. Lalu cari warna yang mendekati. Satu kali sapuan kuas pakai dua warna.

8. Kreasikan dan taraaa… sudah jadi.

Kombinasi warna yang pas, bukan? (kredit: Tanti Amelia)

Belum puas rasanya ya? Masih ada yang mengganjal? Tenang, masih ada satu lagi tips dari Winda Krisnadefa, penulis yang juga lettering and mural services ternama dari ibukota. Bikin poin-poin lagi ya. 😉

Winda sedang berpose bersama karyanya (kredit: Winda Krisnadefa)

1. Usahakan untuk gradasi pakai satu tone warna, misalnya hijau: hijau lemon, hijau muda, hijau eek kuda (😂), hijau tua, dan hijau lain.

Coba perhatikan kombinasi warna dan gradasinya. Keren bukan? (kredit: Winda Krisnadefa)

2. Mau tabrak warna? Jangan nanggung. Nah lo, benar kan apa kata saya. Hajar saja. “Intinya kalau mau ngaco, ngaco aja sekalian,” kata Winda. Tak heran ia pun mereferensikan karya @helen_dardik yang fullcolor dan tabrak warna, tapi enak dilihat.

Salah satu karya @helen_dardik yang saya culik dari instagramnya

3. Jangan mencampurkan nonelectric color dengan electric color, seperti warna-warna stabilo. Buat Winda. Warna-warna tersebut jika dipadupadankan sesamanya saja kadang tidak cocok.

4. Mau membuat warna yang bergliter? Sebaiknya dicampur dengan warna nongliter yang kontras, misalnya gold glitter dipadankan dengan biru tua atau hitam dove atau silver dipadukan dengan maroon dove.

Bebas berkreasi dengan seni, mau pakai media apapun, yang penting bahagia (kredit: Winda Krisnadefa)

5.  Cat, marker, tinta, pensil warna, crayon, semua punya karakter berbeda di media kertas. Media kertas pun beragam, ada yg bertekstur permukaan lembut, ada yang kasar. Baik buat kamu selalu uji coba dengan media yang berbeda untuk tahu bagaimana mengombinasikan warna. Saya suka sekali uji coba dengan media lain, seperti mug, piring, kayu, tripleks, dan kain. Memang kadang agak menjengkelkan kalau kebetulan medianya gampang menyerap warna. Wkwkw

Setiap media punya keunggulan dan kelemahan masing-masing, seperti media dari kulit kayu ini (kredit: Tanti Amelia)

Beberapa tips di atas bisa langsung kamu coba di rumah masing-masing. Bisa juga di rumah tetangga sih, asal tetap belajar mewarnai ya, bukan hal lain. Jika kamu tidak menemukan tips yang kamu inginkan, pada lain kesempatan saya akan mengkhususkan tips ini, tulis saja di kolom komentar kamu ingin belajar apa. Daaaan penutup yang baik dari Winda, yaitu mewarnai itu harusnya sih menyenangkan, jadi have fun sajalah. Kalau hasilnya menurut kamu jelek juga, belum tentu kata orang lain jelek. Tetap postinglah di media sosial kamu. Hahaha… Semoga bermanfaat. (Uwan Urwan)

Puisi yang “Ngenak” di Hati Itu Bagaimana Sih?

Tag

, , , , , , , ,

​Saya pernah menyaksikan Joko Pinurbo baca puisi di Taman Ismail Marzuki. Awalnya tidak ngeh beliau siapa, tapi melihat antusias penonton yang tiba-tiba hening, saya jadi penasaran. Berbeda sekali dengan penampilan pembacaan puisi di tempat lain, pada acara itu pembacaan puisi sangat khikmat. Tak ada satu pun yang membuat forum kecil.

Begitu dibacakan, penonton hening, tertawa beberapa kali saat Joko Pinurbo melontarkan lelucon dalam baitnya. Usai penampilannya, saya tercengang… dan kagum. Tak hanya itu, atraksi baca puisi yang berlangsung beberapa jam itu layak mendapat penghargaan “Malam Paling Menggugah” buat saya. Lalu apa yang membuat puisi-puisi tersebut sampai ke hati pendengarnya? Tentu tak luput dari jiwa yang ada di dalamnya. 

Menulis dengan hati

Menulislah dengan hati…. Yakin deh sampai ke hati pembaca

Rata-rata orang yang saya tanyakan tentang “bagaimana menghasilkan puisi yang sampai di hati pembacanya?” Jawaban mereka tak lain dan tak bukan adalah menulis dengan hati. Apa pun yang ditulis dengan hati, dengan tulus, pasti akan sampai, mau seperti apa pun tulisannya. Kapan waktu yang tepat menulis puisi? Kapan saja, tergantung suasana hatimu. “Entah itu bahagia, galau, marah, atau sedih pasti bisa menghasilkan puisi,” kata Lathifah Edib, pemuisi kelahiran Kalimantan. 

Lathifah Edib tergolong rutin menulis puisi di media sosialnya

Seperti yang pernah saya tulis di postingan sebelummya, Menulis Puisi Jadi Asyik, tuliskan apa yang terbesit saat itu juga. Kemudian bacalah. Menurut Edib, membaca tak hanya membaca karya orang lain, tetapi juga lingkungan sekitar. Setelah menulis, endapkan puisi itu. Memangnya penting? Penting banget, karena kita bisa mengoreksi puisi pelan-pelan, baik typo, diksi, pemborosan kata, dan sebagainya. Kalau tidak diendapkan boleh? Edib dengan tegas menjawab tidak boleh.

Membaca tak hanya membaca karya orang lain, tetapi juga lingkungan sekitar.

“Menurutku, tidak boleh. Pengendapan, kan, bisa sebentar bisa juga lama. Misal nih, aku mau posting puisi lewat status Facebook. Kadang, sebelum aku klik “send”, aku baca dulu itu puisi sebelum kupublikasikan. Itu cuma perlu waktu sekitar 1-5 menit. Kadang juga aku endapkan beberapa jam hingga beberapa hari,” jelasnya.

Jujur

Sekadar Aku sudah menerbitkan tiga buku antologi puisi bersama hasil dari kejujuran menulisnya

Sekadar Aku, pria usia 24 yang sangat mencintai puisi suka sekali merenung, memikirkan apa yang sudah terjadi. Tanpa ribet menjadi orang lain dan memikirkan diksi, puisi-puisinya pasti tercipta dan terposting di akun facebooknya. “Nulis sejujur mungkin tentang apa saja yang ingin kutulis,” lanjutnya. Dia memang salah satu orang yang tulisannya saya suka. Gila, perenungannya begitu hebat dan sudah menerbitkan karyanya dalam tiga buku antologi puisi bersama rekan sepikiran. Simak saja puisinya berikut

)&!*

Seberkas membekas, menapak pada kelopak. Hangat nan pekat sehitam paling nikmat. Lalu pergi sebelum hilang sehingga kenang. Di mana kau sekarang? Kulihat liur membenang sehingga sarang. Dari satu, kemudian sepasang semakin usang inikah kenang?

Bodoh, ceroboh, Ah, sudahlah. Jangan bermain rima. Tuangkan semuanya dengan cara biasa. Kenapa terasa senada? Ini seperti puisi repetisi berdiksi basi. Sepi, sunyi, sendiri, Senyap menyergap, hilang terbuang, kenapa mengulang?

Lahir menua penyakit mematikan. Bukan empat, dasar Bangsat!  Jadilah lima setara penjaga cahaya sukma, seterang lapang berbincang dengan-Nya.

Kota Mati, @#!)@)!^ )&!(

Galau

Galau itu kadang jadi anugerah. Wkwkwk… Tapi jangan galau berlebihan ya

Hal menjengkelkan jika teman-teman saya berkomentar, “Teruslah galau, agar produktif berkarya.” Mereka benar. Jika saya galau, saya lebih banyak melampiaskannya pada karya, entah itu puisi, cerpen, doodle, gambar, atau yang lain. Sebab tanpa disadari galau selalu memenuhi kepala dan harus dilampiaskan. Sekadar Aku pun begitu. Dia lebih suka menulis saat galau, apalagi dalam kondisi tenang dan tidak ada gangguan. Kamu tentu saja bisa melakukannya dengan baik saat galau. Jangan sia-siakan momen galau untuk menulis puisi.

Lepas

Menurut Shifu, menulis puisi harus didasarkan atas cinta

Membuat puisi harus lepas. Menurut Shifu Nangklanan, pemuisi asal Adonara, Nusa Tenggara Timur, cara membuat puisi yang asyik itu saat jiwa kita lepas, merasa bebas. Membebaskan diri itu penting dalam menulis. Jika kamu termasuk orang yang tidak terbiasa dengan aturan, abaikan norma saat menulis, tapi bukan berarti bebas-sebebas-bebasnya.

Lepaskan jiwamu dalam bentuk kata-kata puitis

“Banyak orang menulis bergantung mood, padahal sebenarnya tergantung kesenangan dalam arti lebih luas,” lanjut Shifu. Senang menulis puisi ibarat jatuh cinta. Jika seseorang sedang jatuh cinta, setiap rasa yang muncul, misalnya sedih, senang, benci, tidak suka, bahkan dari hal yang paling tidak ingin dijumpainya meski sekadar bermimpi, akan terwujud dalam untaian kata. Puisi yang asyik itu mencakup semuanya, ketika seseorang itu lepas dan merasa bergairah.

Stres

Kamu stres? Tulislah puisi…

Hahaha… Percaya tidak jika setiap orang memiliki karakter berbeda. Beberapa orang saat stres akan lebih banyak makan, merokok, berolahraga, lari…. Dari kenyataan.. #eh, mencari teman curhat, atau untuk beberapa orang introvert biasanya menuangkan curahannya dalam bentuk tulisan. Menulis itu cara untuk membuang energi negatif dan menjadikannya sebagai karya. Tapi kamu perlu perhatikan bahwa karya itu sebaiknya bermanfaat untuk orang banyak. Jangan asal membinatangkan semua kata-katamu dalam tulisan. Saran saya sih tulisan yang begitu disimpan sendiri saja dan baca ulang kembali saat emosi mereda. Tulisan binatang itu bisa kamu pakai untuk introspeksi diri. Melihat diri apakah kita sudah cukup bijak berkata-kata baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Puisi Veronica B. Vonny sangat menyentuh. Bisa dibilang ia sudah bisa menemukan celah penekanan rasa pada puisi

Ada banyak cara mengekspresikan perasaan dalam puisi. Tentu saja, puisi yang langsung “nyes” ke hati pembacanya bisa dibilang susah-susah gampang. Selain tips di atas, ada ada tips spesial dari Veronica B. Vonny, penulis dan pernah jadi editor lepas di Grasindo dan Gramedia Pustaka Utama. Penasaran? Nih tipsnya

1. Gali perasaan terdalam yang terpendam, ataupun pikiran/masalah yang sedang memenuhi benak. 
2. Ungkapkan lewat bahasa tulisan yang puitis. 

3. Olah kembali agar tatanannya menarik dan enak dibaca sebagai puisi (termasuk pilihan kata dan tipografinya) 

Yang sudah terbiasa nulis puitis mungkin tidak akan kesulitan membahasakan pikirannya langsung ke bentuk puisi. Namun, yang merasa sulit nulis puitis bisa juga melakukan dengan dua proses: pertama, tulis dulu apa saja yang ingin diungkapkan, tidak usah memedulikan diksinya. Setelah itu, barulah diolah sehingga jadi puitis dan berbentuk puisi.

Jadi bagaimana? Yuk langsung mencoba merenung dan menuliskan kata demi kata di atas kertas atau pun melalui smarphonemu. Semoga bermanfaat. (Uwan Urwan)

Sulap Foto Usang Jadi Instagram-able

Tag

, , , , , ,

Foto yang hasilnya jelek memang menjengkelkan. Apalagi jika waktu yang tersedia untuk memotret sangat singkat.

Memotret hasilnya jelek? Blur? Kurang cahaya? Anglenya kurang pas? Atau tidak fokus? Tenang, saya sering mengalaminya kok. Lalu apa harus dihapus karena takut memori kartu cepat penuh? Itu sih terserah kamu. Kalo saya sih, lebih baik menyimpannya.
Lalu buat apa menyimpan foto-foto yang tidak bagus? Pertama, buat belajar. Kedua, didaur ulang. Buat belajar itu penting. Agar kita tahu dan bisa membandingkan mana cara pengambilan paling baik. Setelah memotret tentu kita suka cek galeri dong. Jangan hanya lihat bagaimana foto selfie terbaik, plis deh hahah. Akhir-akhir ini saya memang jarang selfie, kecuali jika berkumpul dengan sesama banci kamera. Selfie itu wajib, tapi tidak selalu harus diposting. Eneg juga kali orang melihat foto kita. Semoga tidak ada yang menyodorkan kaca sebesar tembok. Ahahah.. Eh, bahasannya ngelantur.

Baiklah. Mari kita kembali ke topik utama.

Selama memori di ponselmu belum penuh, usahakan foto jelek tidak dihapus. Bisa didaur ulang. Tidak tahu cara mendaur ulangnya? Sangat sederhana sekali, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Saran saya, siapkan aplikasi edit foto favoritmu (Snapseed, PicsArt, atau aplikasi lain), dan Phonto. Phonto sebenarnya hanya tambahan jika font di Snapseed atau PicsArt kurang sesuai. Phonto adalah aplikasi yang menyediakan banyak jenis font, sehingga kita bisa menambahkan tulisan dalam foto sesuai keinginan kita. Setelah menyiapkan aplikasi tersebut, foto bisa didaur ulang jadi apa saja sih. Simak nih contohnya

1. Quote

Daripada jadi tukang copy paste quote orang lain, lebih baik bikin quote sendiri. Atau meletakkan kutipan favorit di atas foto karya kita. Siapkan saja fotonya dan tempel kalimatnya.

2. Saga (Sajak Gambar)

Tidak selalu perlu gambar bagus untuk digunakan sebagai background tulisan

Sekarang kan zamannya sudah berbeda. Kegiatan copy, paste, dan share sangat gampang dilakukan. Jadi rasanya kalau kamu masih suka copy paste karya orang itu kebangetan banget. Bikinlah puisi sebait lalu tempelkan di atas gambar. Simpel dan siapa tahu kamu bisa lebih ngehits dengan banyaknya orang yang suka dan share sagamu.

Sesuaikan tema tulisan dengan gambar agar ada interaksi keduanya

3. Kover buku

Anggap saja ini kover buku berjudul Zero. Ahahah…

Memangnya tidak bisa kover buku pakai foto blur? Mengapa tidak? Selama tema foto masih seragam, justru akan lebih artistik. Jangan deh jadi yang mainstream-mainstream. Cobalah hal baru. Iya kan?

4. Picture profile

Gambar ini juga tidak sengaja sih. Saya memotret tangan yang saya tempel di depan kamera. Maklum lupa kalau letak kamera di pojok kanan. Karena sudah gelap, saya hanya tinggal crop dan tambah tulisan dan ssstt.. Gambar ini memang jadi foto profil Instagram @uwanuwan

Orang yang pandai memotret banyak, apalagi yang teknik fotografinya kece. Terus kamu merasa gak bisa memotret bagus minder sama tukang poto profesional? Asyikin aja lagi. Pede aja jadiin foto profil di medsosmu.

5. Iklan, baliho, gambar di kaos, atau…

Lucu juga kan jika iklan ini pakai foto blur yang saya edit pakai PicsArt dan Phonto

Sekali lagi, masa bodolah sama persepsi orang. Apapun yang kita hasilkan harus dihargai dan disyukuri. Foto jelek bisa dimanfaatkan jadi apa saja.

Terus kalau sudah tahu dimanfaatkan jadi apa saja, bagaimana caranya agar foto jelek tampak menarik?

Memang sih, foto jelek tidak selalu bisa langsung diaplikasikan. Editlah terlebih dahulu. Hayyaaaa… Harus diedit juga? Kamu lupa? Fotografer profesional saja mengandalkan proses edit foto sebelum tayang di media. Jangan mempermalukan diri sendiri dengan langsung tempel foto kita dengan tulisan. Ahahah… Kita akali sedikitlah biar orang melihat “waw”. Sebenarnya niat utama jangan untuk pamer yang bersifat menyombongkan diri sih, tapi lebih kepada memanfaatkan apa yang dimiliki dan untuk bersenang-senang. Karya harus dipamerkan, jangan dimuseumkan di lemari. Buat apa? Kalau bisa menginspirasi dan bermanfaat buat orang-orang kenapa harus disimpan sendiri? 

Jadi begini, saya suka pakai Snapseed karena jika ditambah saturasi, brightness, contrast, dll tidak terlalu merusak objek yang kita ambil. Berbeda dengan PicsArt. Saya kurang menyarankan ya untuk edit foto pakai PicsArt. PicsArt justru sangat membantu memberi efek yang artistik. Di PicsArt bisa blurkan foto dengan berbagai efek, bisa mengganti warna mata, menghitamkan kulit, dan efek-efek lain. Saya tidak akan menjelaskan rinci, karena selera setiap orang berbeda. 

Contoh nih ya. Saya ingin bikin kover teaser ala-ala. Kebetulan foto yang saya gunakan adalah foto pohon dan langit. Blur, tentu saja. Saya crop pakai aplikasi Snapseed, menurunkan Shadownya, dan menaikkan saturasinya. Jangan lupa tambahkan teksnya. Taraaaa…. Wkwkwkwk. Jadilah.

Teaser ala-ala. Misalnya nih kamu lagi bikin album dan bingung mau pakai foto apa, search di galeri aja. Siapa tahu ada gambar yang sesuai.

Mau yang lebih asyik lagi? Pakailah PicsArt. Foto jelek bisa jadi sangat artistik hanya dengan kreativitas yang kita punya. Tergantung saya mau pakai berapa efek, jika dirasa efek painting saja cukup, ya sudah. Cukup. Jika ingin lebih banyak efek lagi, saya biasanya butuh berjam-jam membuat foto yang semula blur jadi bentuk lain. Pada akhirnya tetap, saya tambahkan tulisan. 

Foto blur yang bikin kesel, tapi jadi ingin dibuat beda ah…

Foto sepatu blur saya edit pakai PicsArt. Dengan tools Stretch dan motion saya bentuk sepatu itu sedemikian rupa jadi seperti sosok manusia. Lalu saya tambahkan efek artistic dan pop art. Oke saya lupa pakai efek apalagi. Ahahaha… Cobalah otak-atik itu aplikasi.

Taraaa, saya beri tulisan menggunakan aplikasi Phonto

Beberapa orang justru tidak menggunakan satu jenis aplikasi untuk menghasilkan gambar bernilai seni lain. Biasanya berpindah-pindah aplikasi agar hasilnya sesuai keinginan. Lagi-lagi ini bergantung selera masing-masing. Untuk beberapa orang yang tingkat imajinasinya tinggi, hasil akhir bisa sangat artistik. Jika sudah begini, tinggal posting dan diberi caption menarik.

Wanna try this? Cobalah sekalian iseng-iseng nunggu teman tidak ada salahnya kan? Semoga bermanfaat. (Uwan Urwan)

Hasilkan Foto Instagram-able Pakai Ponsel

Tag

, , , , ,

Sejak umur 14 tahun saya sudah mulai menikmati hasil foto ahli potret. Saya dibuat terkagum-kagum dengan hasilnya. Waktu itu rajin ke perpustakaan untuk melihat gambar-gambar di buku ensiklopedia juga buku lain. Sampai akhirnya saya punya kamera pocket yang masih menggunakan klise. Klise banget ya… Wkwkw.. 

Bahasan kali ini sih bukan tentang kamera. Kata teman-teman teknik fotografi saya meningkat. Alhamdulillah beberapa waktu lalu sempat menang lomba foto produk di Smesco Digipreneur, ini linknya https://youtu.be/zWHQaXXlJBw. Saya juga tidak menyangka, sebab peserta lain menggunakan kamera gendong (DSLR), sementara saya hanya menggunakan ponsel. 

Apa saya menang begitu saja? Tidak. Saya belajar dari orang-orang yang jauh lebih ahli ketimbang saya. Saya belajar dari teman-teman wartawan Trubus senior waktu saya masih jadi salah satu reporternya, dan teman-teman perfotoan yang selalu ikut tema di akun instagram @uploadkompakan, @motretforfun, @clickandframes @potretinframes, dan lain-lain. Setiap hari mereka mengeluarkan tema untuk diikuti. Jadi jangan heran kalau saya suka ngalay di instagram saya @uwanuwan. Saya belajar di sana juga berkomunikasi dengan orang sehobi, saling sharing informasi dan teknik fotografi. Saya belum ahli sih. Coba saja ikuti tema-tema yang biasanya saya upload di Instagram. Cari pakai hastag. Kamu pasti akan menemukan foto-foto dengan hasil mengagumkan. Jauh lebih bagus ketimbang foto saya. 

Kebetulan saya sering berkunjung ke rumah pemilik akun Instagram @ikka_malika. Dari situ saya jadi tambah ilmu juga dengan lihat langsung studio kecilnya. Sederhana sekali, hanya terdiri dari peti kayu bekas buah, dan tripleks bekas bangunan. Tapi, jangan tanya hasilnya.

Kali ini, dengan sedikit ilmu, ingin berbagi tips sederhana menghasilkan foto produk dengan background hitam dan putih ala Uwan Urwan. Begini….

1. Siapkan objeknya

Bunga rumput yang saya ambil di sawah pun bisa jadi objek foto

Coba cek apa yang kamu punya, bolpoin, sandal, buku, teacup, piring, mainan, atau apa saja. Objek tak harus bagus, bahkan bunga kering pun bisa jadi objek.

2. Siapkan properti

Karena ingin background hitam dan putih, siapkan kain hitam (bisa kerudung, baju, jaket, apa saja asalkan hitam). Jika kamu ada bajet lebih, bisa membuat dari tripleks dengan dicat hitam. Untuk bacground putih bisa pakai kain (asal yang berwarna putih ya. Jangan merah atau polkadot. Hahaha). Hmm paling sederhana sih kalender. Karena setiap rumah pasti punya kalender, bagian belakang kalender bisa digunakan. 

Jangan buang kalender lamamu ya

Sebenarnya untuk background, kamu bisa pakai apa saja. Dalam tulisan ini saya menyarankan yang umum dimiliki. Sekaligus menekan bajet.

Buka kulkas, buka lemari, lihat isinya. Pasti bisa dijadikan properti

Untuk properti, orang-orang perfotoan biasanya memang punya properti khusus, berupa pasir, bunga kering, bunga plastik, dan lain-lain. Kamu bisa cek instagram jika mencari referensi properti apa yang biasanya dipakai untuk mempercantik foto.

3. Siapkan aplikasi Snapseed

Aplikasi asyik yang saya pakai untuk edit foto

Aplikasi ini yang saya gunakan sekarang. Selain simpel, hasilnya memuaskan. Ada banyak aplikasi edit foto, hanya saja, saya saat ini pakai Snapseed.

4. Atur studio kecil kita

Boks ini saya pakai buat mengaitkan kain

Nah, beginilah posisinya. Sederhana bukan?

Kamu bisa mencontoh gambar ini. Agak sulit saya menjelaskan, jadi cobalah kamu atur sedemikian rupa. Oh ya, penting untuk diperhatikan. Pencahayaaannya harus cukup, tidak terlalu banyak cahaya dan tidak redup. Saya sih suka meletakkan studio bongkar pasang di luar rumah. Kebetulan saya tidak perlu lagi menambahkan penghalang agar cahaya tidak berlebih saat memotret.

Kalau studio kecil @ikka_malika begini

5. Berkreasilah

Asyiknya sih dalam seni itu dituntut untuk menghasilkan sesuatu yang unik. Untuk awal cara paling baik untuk belajar itu meniru. Tirulah dengan cara yang sama. Jika sudah menemukan celahnya, temukan jati diri. Xixi… Kebetulan saya masih suka meniru.

Ada yang tahu bunga ini?

Letakkan objek utama di tengah. Potret. Jangan hanya sekali jepretan. Fotografer profesional saja tidak menjepret sekali unruk satu angle. Jika sudah selesai dengan satu angle, cobalah untuk memotret dari angle yang berbeda. Ada banyak seni fotografi, flatlay, hands in frame, dan lain-lain. Silakan browsing sendiri, soalnya saya juga masih belum terlalu paham. Takut salah menyampaikan. Ahahaha…

Asyiknya bekreasi dalam fotografi

Jika sudah selesai dengan objek tunggal, cobalah untuk menambah properti lain, misalnya bunga hidup, bunga kering, serasah, kerikil, talenan, pita, pasir, serbet, koran, atau… apa saja yang ada di rumah bisa dipakai. Serius. Asal jangan takut saja berkreasi. Berimajinasilah. Berfantasi… Tsaaahhh… 

6. Edit dengan Snapseed

Kaldu kambing dengan tambahan asesoris yang mendukung objek (Sebelum)

Kaldu kambing (setelah dilakukan cropping, rotate, dan saya tingkatkan saturasinya 

Proses ini cukup penting. Sebab meski hasil foto bagus, tapi kadang masih belum sempurna. Jangan salah, fotografer profesional juga mengandalkan proses editing untuk menyempurnakan hasil foto.

Bunga liar. Detail mahkotanya tidak tampak meskipun saat dilihat menggunakan mata telanjang juga begitu (sebelum)

Bunga liar setelah dilakukan cropping, lalu menaikkan detail struktur, kecerahan, dan saturasinya

Hal pertama yang sangat mungkin dilakukan adalah cropping, meningkatkan saturasi, brightness, ketajaman, dan lain-lain. 

Ini yang bikin saya jingkrak-jingkrak. 😍😍

Untuk foto background kalender, biasanya terlihat ada lipatan. Naikkan brightness-nya, kurangi shadownya, naikkan highlights, naikkan detail structure-nya,  dan atur white balance-nya. 

Untuk background hitam, biasanya saya cuma menurunkan shadow-nya, atau memanfaatkan selective dengan menurunkan brightness-nya.

Snapseed cukup unik sih penggunaannya. Kamu cukup menggeser ke kanan dan ke kiri, atau menggeser ke atas dan ke bawah. Oh ya, jangan lupa tambahkan watermark. Jangan remehkan foto hasil jepretan sendiri meskipun hasilnya standar. Itu karya dan siapa saja bisa mengambil lalu memostingnya. Pastikan jika tidak menggunakan watermark, fotomu sudah siap diambil dan dipublikasikan orang lain. Hehe.. Semoga ilmu sotoy yang saya tulis di sini bermanfaat. Aamiin. (Uwan Urwan)

Kenapa Orang Indonesia Betah di Luar Negeri?

Tag

, , ,

Saya sering memerhatikan timeline. Ada banyak postingan seru. Biasanya saya like postingan mereka atau komen jika menggelitik untuk dikomentari. Cukup intens juga sih saya memerhatikan teman-teman yang sering update di media sosial, jadi saya tahu (minimal) hal-hal yang membuat mereka senang.

Korea Selatan memang memesona (Kredit: Aris Nurlaili)

Beberapa teman saya tinggal di luar negeri, seperti Jepang, Afrika, Australia, Thailand, Jerman, Korea Selatan, bahkan ada yang memang bolak-balik ke luar negeri untuk melancong. Seru sih melihat perjalanan hidup yang mereka share di media sosial. Minimal mengagumi pemandangan yang jadi background selebihnya ya seru-seru tapi iri. Haha… Dan mereka betah di sana. 

Pemandangan menakjubkan yang selalu sukses buat iri (kredit: Ratih Kusuma Wardani)

Kuliah di luar negeri juga impian saya sih dulu. Sebagian orang mungkin juga punya cita-cita yang sama. Kebetulan beberapa teman saat ini tinggal di Korea Selatan. Saya penasaran, apa sih yang membuat betah di Korea Selatan? Simak nih…

1. Transportasi

Aris Nurlaili saat ini sedang menempuh studi di negeri gingseng itu. Ah, korea memang termasuk negara maju. Aris sempat berpikir untuk tidak kembali ke Indonesia karena transportasinya. 

Bus ini yang selalu ontime datang sesuai jadwal (kredit: @fahmisyaiful)

“Transportasi di sini sangat bisa diandalkan dari segi kemudahan, ketepatan, kecepatan, harga, dan satu lagi terintegrasi,” kata Aris. Di Korea Selatan, semua transportasinya on time dan sudah diperhitungkan berapa waktu yang dibutuhkan untuk tiba di tempat tujuan. Sebelumnya ia sempat bekerja di Jakarta. Jarak tempat tinggal dan kantornya hanya 2 km, tapi jika naik angkutan umum (metromini), rutenya berkelit dan perlu waktu 45-75 menit untuk sampai di kantor. Dari situ ia lebih memilih berjalan kaki. Akibatnya tiba di kantor, badannya penuh keringat dan lusuh. Untunglah sebelum meninggalkan Indonesia, ada ojek online yang membuatnya tak perlu berjalan kaki dan terlambat.

Sangat kontras dengan yang terjadi di Korea Selatan. “Uniknya sih, saya tidak perlu membayar lagi jika akan berpindah dari subway ke bus, bus ke subway, atau bus ke bus, asal ada jeda perpindahannya tidak lebih dari 30 menit.Harganya murah, hanya 1200 krw (dikali 11,4 kalau dijadikan rupiah atau bergantung kurs) jika dibandingkan dengan pendapatan per kapita. Bandingkan saja dengan negara maju lain, seperti Singapura atau Hongkong.

2. Kemudahan Transaksi

Tanpa uang tunai pun selama di kartu debit ada saldo, kita masih bisa bertransaksi di Korea Selatan (kredit: @bouldine)

Tanpa menggunakan uang cash, di Korea Selatan sudah bisa bertransaksi apa saja.”Apapun bisa bayar pakai kartu debit,” kata Aris. Tentu kartu kredit juga bisa dong ya. Aris jarang sekali punya uang tunai. Dia bisa beli makan di warung kecil, belanja di warung kelontong, sampai berbelanja di mall (kecuali pedagang yang menggelar di trotoar) hanya dengan kartu debit tanpa kewajiban melakukan transaksi minimal. Berbeda di Indonesia yang hanya bisa pakai kartu di toko modern. “Pernah aku hanya bayar fotokopian 100 krw (senilai Rp1.140) pakai kartu debit dan berhasil, meski malu juga sih,” lanjutnya.

3. Doyan Olahraga

Pola hidup sehat memang jadi gaya hidup orang Korea Selatan (kredit: @ace_gym)

Yang Aris amati, sebagian besar orang Korea Selatan rajin berolahraga, mulai dari anak-anak sampai yang sudah kakek nenek. Jika kakek-kakek dan nenek-nenek di Indonesia lebih suka duduk-duduk di depan rumah atau ngerumpi dengan tetangga, di situ justru mereka suka hiking. Tempat hiking di Seoul cukup banyak, sehingga tidak pernah sepi. Pemerintah Korea Selatan pun memfasilitasi tempat-tempat hiking dengan menyediakan outdoor gym, toilet, gubuk kecil, bangku buat bersistirahat, area bermain anak, area teater outdoor, dan lain-lain. Keren ya. Jadi kamu jangan heran kalau misalnya ke Korea Selatan menemukan kakek nenek pegang peta rute hiking. “Aku saja sempat kaget waktu hiking, di tengah hutan ada perpustakaan mini yang isinya buku sampai koran harian.

Pusat kebugaran di Korea Selatan selalu ramai (kredit: @palace_of_memory)

Anak mudanya juga suka hiking? Tentu ada, tapi justru anak muda Korea Selatan berebut di tempat gym. Mengunjungi gym sudah jadi rutinitas buat orang-orang bermata sipit itu. Berbeda dengan di Indonesia, jika ada yang doyan ke gym, justru jadi bahan gosip sepanjang masa. Ahahaha. “Aku saja harus ke gym sepagi mungkin, sebelum mereka bangun. Agak siang sedikit tempat gym sudah penuh. Sampai banjir,” kata Aris diselingi tawa.

4. Bertemu Orang-orang Hebat

Tak heran jika di negara maju, bertemu orang hebat itu anugerah (kredit: Ratih Kusuma Wardani)

Beda orang, beda pengalaman, dan berbeda hal yang disharing. Ratih Kusuma Wardani, alumnus Universitas Brawijaya yang kini melanjutkan studi di negeri orang kulit putih itu, justru sering bertemu orang-orang hebat. Wajar saja, sebab kampusnya tergolong tempat berkumpulnya mahasiswa asing belajar. Yang membuatnya senang pun, ia melihat antusias anak-anak SD belajar sains, melihat bagaimana penelitian dilakukan. “Orang-orang Indonesia harus segera meniru Korea Selatan jika ingin maju. Korea Selatan juga mengalami perang saudara, tapi mereka bisa bangkit dan semaju ini,” ungkap Ratih sambil berkobar. Ya, dia memang orang yang mudah berkobar.

5. Rapi dan Bersih

Betapa bersihnya Korea Selatan (kredit: Aris Nurlaili)

Korea Selatan sangat rapi dan bersih. Sepertinya ini sudah jadi bahasan umum sih. Kalau dibandingkan dengan Indonesia? Hmmm.. Bismillah Indonesia akan segera bersih dari yang kotor-kotor. Aamiin

6. Riset Berkesinambungan

Keberlangsungan sebuah perusahaan ditentukan oleh hasil riset mahasiswa di sebuah universitas (kredit: Ratih Kusuma Wardani)

Ratih tinggal di Ulsan, kota terbesar ketiga di Korea Selatan setelah Seoul dan Busan. Di mana Ulsan itu pusat industri otomotif, Hyundai company. Jadi, perusahaan besar di Korea Selatan punya kampus yang mendukung riset. Hasil riset tentu akan diaplikasikan oleh perusahaan tersebut. Keren yak. Berbeda di Indonesia yang hasil risetnya berjamur di perpustakaan.

7. Taat Hukum

Oke, sepertinya dia artis korea. Wkwkw… Gpplah yang penting berseragam polisi (kredit: @donghae_lovelove)

Orang Korea Selatan patuh hukum. Tak heran jika Korea Selatan tergolong salah satu negara teraman di dunia. Cctv juga tersebar di banyak tempat juga banyak polisi patroli. Ratih menambahkan bahwa seorang pria paruh baya meski mabuk tidak membuat onar. Dia berjalan pukul dua pagi pun tak ada yang mengganggu. “Oh ya, jika hape ketinggalan, bisa dipastikan sampai hari ke berapa pun akan tetap berada di sana,” lanjutnya. Sistem di Korea Selatan sudah tertata dengan baik sampai ponsel terhubung dengan ID setiap orang. Kalau ada yang mencuri, pasti dengan mudah terlacak.

8. Pelayanan Publik Cepat dan Mudah

Sistem pelayanan publik di Korea Selatan serba-digital. Dibandingkan dengan di Indonesia yang harus antri panjang dan berbelit-belit. Di Korea Selatan sangat efisien, mengurus apa pun di pelayanan publik paling lama 10 menit.

Sangat kontras dengan pelayanan publik di Indonesia yang berbelit-belit dan tak kunjung selesai. Pengalaman seorang kawan, sebut saja Mayang (doi gak mau disebut namanya), saat dia membutuhkan bantuan dan infomasi di sebuah instansi pemerintah negara sendiri, justru tidak mendapatkan hasil. “Aku mengerti jika dalam instansi pasti ada penanggung jawabnya dan ada yang tidak mengerti. Tapi setiap membutuhkan jawaban saat ditelpon selalu dijawab dengan, ‘maaf penanggungjawabnya tidak di tempat, maaf saya kurang tahu, maaf silakan datang lagi.” Paling parah sih saat telepon tidak diangkat dan email tidak dibalas,” keluhnya kesal.

Jadi dilema memang buat orang Indonesia yang studi di luar negeri dan membutuhkan bantuan instansi pemerintahan di Indonesia. Di Korea Selatan, semalas-malasnya orang, kalau ada telepon pasti diangkat dan kalau ada email pasti dibalas.

9. Tanggung Jawab

Berangkat dari kekesalan Mayang tentang Indonesia, yang kini menempuh S3 di negeri itu, memang perlu ditambahkan sih jika orang-orang Korea lebih bertanggung jawab. 

Orang Korea Selatan workaholic. Overtime sudah biasa, tapi pelayanan tetap nomor satu. (kredit: Ratih Kusuma Wardani)

Di Korea Selatan pekerjaan banyak, tuntutan tinggi, tapi sesuai dengan apa yang didapat, misalnya ilmu, pesangon, kesempatan liburan, dan bertemu orang-orang hebat di bidangnya. Di Korea Selatan juga sering overwork, tapi saat butuh pelayanan, mereka selalu siap, misalnya membutuhkan surat cepat dari sekolah atau pemerintah tanpa harus membayar uang administrasi. Jika dibandingkan dengan orang Indonesia, kita selalu mikir praktis. Dapat kerja dan gaji, “without even considering that we are also have a resposibilities, along with all of those money which come to our pocket,” selanya diiringi tertawa.

Seru sih begitu saya mendapatkan banyak jawaban untuk riset kecil ini. Tulisan ini bukan berarti mengecilkan negara Indonesia. Saya hanya ingin menunjukkan bahwa, ada banyak orang potensial yang bisa kita manfaatkan yang pada akhirnya memilih betah tinggal di luar negeri. Eh, dari ketiga responden di atas, mereka juga mengaku cinta Indonesia, sangat rindu orang-orangnya, kondisi alamnya, dan makanannya. Bagaimana pun mereka lahir di Indonesia. Cuma ya memang, orang-orang Indonesia, termasuk saya kudu berbenah. Sebab kita tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah untuk masalah-masalah ini. Kita yang harus bergerak untuk kemajuan bangsa ini. Semoga tulisan ini bermanfaat. Aamiin. (Uwan Urwan)

Membuat Puisi Jadi Asyik

Tag

, , , ,

Beberapa teman tiba-tiba mendatangi saya untuk bertanya serius tentang puisi. Mereka menanyakan bagaimana sih memilih diksi dan membebaskan imajinasi. Ah, meski sudah menerbitkan dua buku kumpulan puisi tunggal, tiba-tiba saya tertekan dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana itu. Pertanyaannya memang sederhana. Tapi seringkali hal sederhana tidak bisa dijelaskan dengan baik. Iya, kan? 

Saya bukan siapa-siapa lalu didatangi oleh teman-teman yang ingin menculik ilmu dari saya. Ah, menculik, bagaimana kalau diganti “meminta berbagi”? Itu lebih tepat. Jangan pelit ilmulah.

Kemudian saya ingat pesan seorang teman, “jika ada yang bertanya-tanya, jawablah dengan bijak”. Dari situ saya mencoba mengingat-ingat apa yang pernah saya pelajari. Rasanya berdosa jika harus memiliki ilmu itu sendiri. Dari pertanyaan-pertanyaan itu saya jadi membuka ingatan kembali, membaca ulang, dan ya, ternyata saya juga melupakan banyak hal saat menulis puisi. Ternyata teori yang saya dapat tidak terlalu diaplikasikan.

Meski tergolong amatir dalam hal perpuisian, saya juga punya tanggung jawab untuk berbagi, tentang bagaimana sih membuat puisi dengan pilihan diksi yang tepat. Sambil belajar juga. Begini tips membuat puisi kece ala Uwan Urwan

  1. Bebaskan imajinasi. Saya tergolong penggemar berat puisi-puisi Afrizal Malna dan I Made Wiyanta. Mereka mengajarkan saya untuk membiarkan imajinasi menangkap semua objek yang ingin dituangkan dalam tulisan. Jika saya berada dalam sebuah ruangan yang terdapat meja kayu ukiran. asbak kotor, puntung rokok, kucing tidur, lampu petromax, dan sepatu usang. saya akan menuangkan semua objek-objek itu menjadi satu padu yang bisa jadi menghidupkan benda-benda mati itu menjadi seolah-olah punya nyawa.
  2. Jangan terpaku pada diksi. Meskipun saya suka sekali menggunakan diksi-diksi aneh, saya tak pernah memikirkan kata apa yang akan saya tulis. Selama apa yang ada di dalam kepala masih mendesak untuk dikeluarkan, saya tidak akan berhenti menulis. Berhenti, memikirkan diksi artinya melepaskan kata-kata yang seharusnya jadi padu dalam puisi itu. Sayang sekali kan kalau kita terlalu repot memikirkan diksi, tetapi ide jadi kabur. Isi puisi bisa jadi patah-patah dan maknanya pun seolah robek.
  3. Bukalah kamus. Dulu saya rajin sekali buka kamus Bahasa Indonesia. Biasanya saya menemukan kata-kata yang tidak familiar tapi sebenarnya bisa dipakai dalam puisi. Lucu kan. Orang bisa jadi akan belajar Bahasa indonesia kembali jika kita memopulerkan kata-kata yang sudah terlupakan. Tapi jangan kebablasan. Terlalu banyak menggunakan kata ganti juga bisa membuat puisi jadi aneh.
  4. Berdiskusi. Yes, ini yang sering saya lakukan sih. Kita tidak bisa hidup sendiri. Karya kita tidak akan hidup tanpa orang lain. Masukan orang lain perlu. Bahkan gaya penulisan orang lain bisa jadi sumber inspirasi. Dari situ kita bisa belajar “begini ya.. begitu ya…” Serius. Selama saya berdiskusi dengan teman, ada banyak sekali ilmu yang didapat. Kenapa? Bahan bacaan setiap orang jelas beda, artinya referensi kita akan bertambah tanpa harus membaca ribuan buku puisi.
  5. Sering-sering baca dan mengomentari tulisan orang lain. Membaca saja tidak cukup. Membaca puisi buat saya tergolong hal yang membosankan. Haha… Serius. Walaupun pada saat-saat tertentu membaca puisi itu adalah obat kesengsaraan hati. Haha.. Dengan mengomentari tulisan orang lain, artinya akan ada interaksi dari si pembuat puisi. Nah, itu juga diskusi. Asal tidak menjelek-jelekkan karya orang lain saja. Memangnya situ oke sampai harus menjelek-jelekkan orang lain? Wkwk…
  6. Bacakan. Hm.. maksud saya bukan membaca saja, tapi bacakan dengan gaya pembacaan puisi. Tak perlu bagus cara membacanya. Bacakan saja dengan gaya sendiri. Dengan dibacakan, aura yang ada dalam puisi yang kita buat akan terasa. Jika ada diksi yang kurang nyaman, juga akan langsung tampak. Jadi bisa disubtitusikan dengan kata lain.

Ada banyak hal yang masih saya pelajari. Pada tulisan yang lain, saya akan membahas juga tentang puisi. Cannot wait? Saya juga tidak sabar tuh. Jika kamu punya tips tambahan, silakan. Kita bisa saja berdiskusi asyik tentang puisi. Dahhh.. semoga bermanfaat ya. (Uwan Urwan)